9 Wisata Atraksi di Sulawesi Tenggara Yang Patut Diketahui

425 views
0

1. Tari Balumpa dari Kabupaten Wakatobi;

Tari Balumpa berasal dari Kabupaten Wakatobi, daerah Binongko dan Buton. Tarian ini menggambarkan kegembiraan penari sebagai salah satu bentuk penyambutan atas kedatangan tamu dari luar yang datang ke daerah mereka. Tarian ini menceritakan tentang sekolompok gadis cantik yang sedang berdendang diiringi lagu musik daerah dan menggunakan alat musik gambus. Keindahan tarian Balumpa terlihat saat para penari sedang berdendang dengan hati yang tulus dan memahami makna gerakan yang di lakukan.


Tarian ini biasanya dibawakan oleh 6-8 orang, ada yang berpasangan laki-laki-perempuan dan ada juga perempuan-perempuan. Di Wakatobi, tarian Balumpa ditampilkan saat penyambutan datangnya tamu agung dari luar dan dalam negeri.

2. Atraksi Perahu Naga, di Kota Baubau;

3. Atraksi Momani (Tarian Perang Moronene), di Kabaena Kabupaten Bombana;

4. Tari Lulo Alu, dari Kabaena Kabupaten Bombana;


adalah tarian yang berasal dari Tokotua, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Tarian ini dilaksanakan sebagai salah satu ritual adat Tokotua atas rasa syukur dan terima kasih kepada sang pencipta atas melimpahnya rezki dari hasil panen beras pada masa lalu. Dimana menurut catatan sejarah pada zaman dahulu Tokotua atau Kabaena merupakan bagian dari Kesultanan Buton yang merupakan penghasil beras sebagai pilar penguat Kesultanan Buton pada masa kejayaannya.

5. Tari Galangi, Buton Raya;


Tari Galangi merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Kepulauan Buton Raya, Sulawesi Tenggara. Tarian ini mewujudkan bagaimana penggunaan gala dalam menghadapi musuh. Fungsi Tari ini ditampilkan sebagai ungkapan kebesaran terhadap kemuliaan sultan dan digunakan untuk mengantar tamu dan juga mengiringi Sultan ketika keluar istana. Tarian Galangi ini terdiri dari sebelas kelompok, tiap kelompok terdiri dari tujuh orang. Pada zaman dahulu kelompok tersebut bertugas untuk mempertahankan Kerajaan/ Kesultanan bila ada serangan dari luar.

6. Tari Mangaru, Buton Raya;


Tarian ini menggambarkan kobaran semangat ksatria yang lincah dan gesitnya menggunakan parang, keris, tombak dan senjata lainnya di medan perang. Dengan Konsentrasi yang penuh serta ketajaman hati dan pikiran akan mampu mematahkan keampuhan senjata lawan. Tarian ini apabila ditampilkan selalu diawali dengan WORE sebagai pembakar semangat akan kecintaan dan kesetiaan terhadap tanah leluhur. Tari ini biasanya dipertontonkan pada saat musim tanam-tanaman yang syukuran hasil panen. Namun, saat ini lebih sering ditampilkan sebagai tari penyambutan tamu.

7. Tari Lumense, dari Kabaena di Kabupaten Bombana;


ari Lumense atau Tarian Lumense adalah tarian yang berasal dari Tokotu’a, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Kata lumense sendiri berasal dari bahasa daerah setempat yakni lume yang berarti terbang dan mense yang berarti tinggi. Jadi, lumense bisa diartikan terbang tinggi. Tari lumense sendiri berasal dari kecamatan Kabaena. Suku Moronene merupakan penduduk asli dari wilayah ini. Nenek moyang suku ini adalah bangsa melayu tua yang dating dari hindia belakang pada zaman pra sejarah. Secara geografis, kecamatan kabaena merupakan pulau terbesar setelah buton dan Muna di Sulawesi tenggara. Menurut sejarah, dahulu kecamatan kabaena berada di bawah kekuasaan kerajaan Buton sehingga hubungan kekerabatan antara Kabaena dan buton pun sangat erat. Hal ini juga mempengaruhi perkembangan kebudayaan di wilayah Kabaena termasuk tari Lumense.

8. Tari Dudenge, dari Kabaena di Kabupaten Bombana;

9. Tari Posepaa, dari Wanci di Kabupaten Wakatobi.


Posepaa merupakan tradisi rakyat dalam lingkungan Benteng Keraton Liya yang dilakukan setahun sekali utamanya pada saat bulan suci ramadhan disetiap sore hari mulai jal 16.30 sampai menjelang buka puasa. Tradisi ini diperkirakan mulai dikembangkan oleh Djilabu sebagai pembawa agama islam di Liya pada tahun 1536 Masehi dengan maksud agar masyarakat menjelang buka puasa tidak bermalas-malasan untuk itu dibuatkan kegiatan ini agar masyarakat secara aktif melaksanakan Posepaa ini dan lapar/dahagapun sampai terlupakan oleh asyiknya permainan ini.

Komentar kamu?