Info Lengkap Sulawesi Tenggara

321 views
0

WartaWisata.ID – Sulawesi Tenggara merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang terletak bagian tenggara pulau Sulawesi dengan ibukota Kendari. Provinsi Sulawesi Tenggara terletak di Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi, secara geografis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa di antara 02°45′ – 06°15′ Lintang Selatan dan 120°45′ – 124°30′ Bujur Timur serta mempunyai wilayah daratan seluas 38.140 km² (3.814.000 ha) dan perairan (laut) seluas 110.000 km² (11.000.000 ha).

Sulawesi Tenggara awalnya merupakan nama salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara Sulselra dengan Baubau sebagai ibukota kabupaten. Sulawesi Tenggara ditetapkan sebagai Daerah Otonom berdasarkan Perpu No. 2 tahun 1964 Juncto UU No.13 Tahun 1964.
Sulawesi Tenggara pada masa pemerintahan Negara Kesultanan – Kerajaan Nusantara hingga terbentuknya Kabupaten Sulawesi Tenggara pada tahun 1952, sebelumnya merupakan Afdeling. Onderafdeling ini kemudian dikenal dengan sebutan Onderafdeling Boeton Laiwoi dengan pusat Pemerintahannya di Bau-Bau. Onderafdeling Boeton Laiwui tersebut terdiri dari : Afdeling Boeton; Afdeling Muna; Afdeling Laiwui.

Yang perlu diketahui bahwa Onderafdeling secara konsepsional merupakan suatu wilayah administratif setingkat kawedanan yang diperintah oleh seorang (wedana bangsa Belanda) yang disebut Kontroleur (istilah ini kemudian disebut Patih) pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Sebuah onderafdeling terdiri atas beberapa landschap yang dikepalai oleh seorang hoofd dan beberapa distrik (kedemangan) yang dikepalai oleh seorang districthoofd atau kepala distrik setingkat asisten wedana.

Status Onderafdeling diberikan oleh pemerintah Hindia Belanda kepada daerah-daerah yang memiliki kekuasaan asli dan kedaulatan yang dihormati bahkan oleh pemerintah Hindia Belanda sendiri. Pengakuan kekuasaan ini diberikan karena daerah-daerah tersebut bukanlah daerah jajahan Belanda namun sebagai daerah yang memiliki jalinan hubungan dengan Belanda.

Dalam beberapa anggapan bahwa Onderafdeling merupakan jajahan kiranya tidaklah benar, karena dalam kasus Onderafdeling Boeton Laiwoi terdapat hubungan dominasi yang agak besar oleh Belanda sebagai pihak yang super power pada masa itu dengan Kesultanan dan Kerajaan di Sulawesi Tenggara khususnya Kesultanan Buton, sehingga diberikanlah status Onderafdeling Boeton Laiwoi.

Afdeling Kolaka pada waktu itu berada di bawah Onderafdeling Luwu (Sulawesi Selatan), kemudian dengan Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 1952 Sulawesi Tenggara menjadi satu Kabupaten, yaitu Kabupaten Sulawesi Tenggara dengan ibu Kotanya Baubau. Kabupaten Sulawesi Tenggara tersebut meliputi wilayah-wilayah bekas Onderafdeling Boeton Laiwui serta bekas Onderafdeling Kolaka dan menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan Tenggara dengan Pusat Pemerintahannya di Makassar ( Ujung Pandang ).

Masa Orde Lama 1964
Selanjutnya dengan Undang-Undang No. 29 Tahun 1959, Kabupaten Sulawesi Tenggara yang dimekarkan menjadi empat kabupaten, yaitu:

Kabupaten Buton, Kabupaten Kendari, Kabupaten Kolaka, dan Kabupaten Muna.
Keempat Daerah Tingkat II tersebut merupakan bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara. Betapa sulitnya komunikasi perhubungan pada waktu itu antara Daerah Tingkat II se Sulawesi Selatan Tenggara dengan pusat Pemerintahan Provinsi di Ujung Pandang, sehingga menghambat pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan maupun pelaksanaan tugas pembangunan. Disamping itu gangguan DI/TII pada saat itu sangat menghambat pelaksanaan tugas-tugas pembangunan utamanya dipedesaan.

Daerah Sulawesi Tenggara terdiri dari wilayah daratan dan kepulauan yang cukup luas, mengandung berbagai hasil tambang yaitu aspal dan nikel, maupun sejumlah bahan galian lainya. Demikian pula potensi lahan pertanian cukup potensial untuk dikembangkan. Selain itu terdapat pula berbagai hasil hutan berupa rotan, damar serta berbagai hasil hutan lainya. Atas pertimbangan ini tokoh – tokoh masyarakat Sulawesi Tenggara, membentuk Panitia Penuntut Daerah Otonom Tingkat I Sulawesi Tenggara.

Tugas Panitia tersebut adalah memperjuangkan pembentukan Daerah Otonom Sulawesi Tenggara pada Pemerintah Pusat di Jakarta. Berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, cita-cita rakyat Sulawesi Tenggara tercapai dengan keluarnya Perpu No. 2 Tahun 1964 Sulawesi Tenggara di tetapkan menjadi Daerah Otonom Tingkat I dengan ibukotanya Kendari.

Realisasi pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara dilakukan pada tanggal 27 April 1964, yaitu pada waktu dilakukannya serah terima wilayah kekuasaan dari Gubernur Kepala Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tenggara, Kolonel Inf.A.A Rifai kepada Pejabat Gubernur Kepala Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, J. Wajong.Pada saat itu Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara mulai berdiri sendiri terpisah dari Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan. Oleh karena itu tanggal 27 April 1964 adalah hari lahirnya Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara yang setiap tahun diperingati

Masa Orde Baru Tahun 1995
Dibentuk satu kota yaitu Kota Kendari, pemekaran dari Kabupaten Kendari, sekarang Kabupaten Konawe (3 Agustus 1995).

Masa Era Reformasi Tahun 1999
Masa Awal Reformasi
Dibentuk satu kota Baru yaitu : Kota Baubau, pemekaran dari Kabupaten Buton (21 Juni 2001).

Masa Berikutnya Reformasi
Terbentuk beberapa kabupaten baru :

Kabupaten Bombana, pemekaran dari Kabupaten Buton (18 Desember 2003)
Kabupaten Wakatobi, pemekaran dari Kabupaten Buton (18 Desember 2003)
Kabupaten Kolaka Utara, pemekaran dari Kabupaten Kolaka (18 Desember 2003)
Kabupaten Konawe Selatan, pemekaran dari Kabupaten Konawe (25 Februari 2003)
Kabupaten Konawe Utara, pemekaran dari Kabupaten Konawe (2 Januari 2007)
Kabupaten Buton Utara, pemekaran dari Kabupaten Muna (2 Januari 2007)
Kabupaten Kolaka Timur, pemekaran dari Kabupaten Kolaka (14 Desember 2012)
Kabupaten Konawe Kepulauan, dimekarkan dari Kabupaten Konawe (12 April 2013)
Kabupaten Buton Tengah, dimekarkan dari Kabupaten Buton (Juli 2014)
Kabupaten Buton Selatan, dimekarkan dari Kabupaten Buton (Juli 2014)
Kabupaten Muna Barat, dimekarkan dari Kabupaten Muna (Juli 2014)
Setelah pemekaran, Sulawesi Tenggara mempunyai 15 kabupaten dan 2 kota. Saat ini Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki Kantor Penghubung Provinsi Sulawesi Tenggara pada Gedung Menara Global yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto DKI Jakarta.

Demografi Daerah
Jumlah Penduduk
Pada tahun 1990 jumlah penduduk Sulawesi Tenggara sekitar 1.349.619 jiwa. Kemudian tahun 2000 meningkat menjadi 1.776.292 jiwa dan berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik tahun 2005 adalah sejumlah 1.959.414 jiwa.

Dari publikasi Proyeksi Penduduk Indonesia 2010–2035 disebutkan bahwa jumlah penduduk Sulawesi Tenggara berturut-turut (dalam ribuan) 2.243,6 (2010), 2.499,5 (2015), 2.755,6 (2020), 3.003,3 (2025), 3.237,7 (2030) dan 3.458,1 (2035).

Pertumbuhan Penduduk
Laju pertumbuhan penduduk Sulawesi Tenggara selama tahun 1990–2000 adalah 2,79% per tahun dan tahun 2004–2005 menjadi 0,02%.[butuh rujukan] Laju pertumbuhan penduduk menurut kabupaten selama kurun waktu 2004–2005 hanya kota Kendari dan Kabupaten Muna yang menunjukan pertumbuhan yang positif, yaitu 0,03 % dan 0,02 % per tahun, sedangkan kabupaten yang lain menunjukkan pertumbuhan negatif.

Struktur Penduduk
Struktur umur penduduk Sulawesi Tenggara pada tahun 2005, penduduk usia di bawah 15 tahun 700.433 jiwa (35,75%) dari total penduduk, sedangkan penduduk perempuan mencapai 984.987 jiwa (20.27%) dan penduduk laki-laki mencapai 974.427 jiwa (49,73%).
Potensi Perekonomian Daerah
Komoditi unggulan
Pertanian, meliputi: kakao, kacang mede, kelapa, cengkeh, kopi, pinang lada dan vanili
Kehutanan, meliputi: kayu gelondongan dan kayu gergajian
Perikanan, meliputi: perikanan darat dan perikanan laut
Peternakan, meliputi: sapi, kerbau dan kambing
Pertambangan, meliputi: aspal , nikel, emas, marmer, batu setengah permata, onix, batu gamping dan tanah liat
Potensi Kepariwisataan Daerah
Pariwisata
Wisata Sejarah
Benteng Keraton Buton, di Kota Baubau yang merupakan benteng terluas di dunia;
Istana Kamali Baadia, di Kota Baubau yang merupakan Istana dari Sultan Ke-38 La Ode Falihi dan Sultan Ke-39 Drs. H. La Ode Manarfa;
Istana Malige, di Kota Baubau dengan arsitektur khas Suku Buton dan merupakan bangunan adat yang tidak menggunkan paku;
Istana Kamali Kara, di Kota Baubau yang terletak di dalam benteng keraton Buton;
Istana Kamali Bata, di Kota Baubau yang letaknya bersebelahan dengan Istana Kamali Kara;
Kasulana Tombi, di Kota Baubau yang merupakan bekas tiang bendera Kesultanan Buton yang umurnya lebih dari tiga abad;
Masjid Agung Keraton Buton (Masigi Ogena), di Kota Baubau yang merupakan masjid pertama yang berdiri di Sulawesi Tenggara;
Kampua, di Kota Baubau yang merupakan mata uang Kerajaan dan Kesultanan Buton;
Petilasan Arung Palakka; yang merupakan tempat persembunyian Arung Palakka ketika berlindung di Tanah Buton;
Benteng Kerajaan Kabaena (Benteng Istana Tangkeno dan Benteng Tontontari) di pulau Kabaena Kabupaten Bombana
Wisata Budaya
Tenunan Buton di kota Baubau, Kabupaten Buton dan Kabupaten Buton Utara;
Tenun Ikat di Kabupaten Wakatobi;
Upacara Adat Mataa, dari Kabupaten Buton;
Pekande-kandea, upacara adat masyarakat Buton Raya (Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Utara, Kota Baubau, Kabupaten Wakatobi);
Pengrajin Besi, di Binongko, Kabupaten Wakatobi;
Upacara Adat Posuo, Tandaki, dan Posusu (Masyarakat Buton Raya);
Upacara Adat Kabuenga, dari Kabupaten Wakatobi;
Upacara Adat Karia, dari Wangi-wangi di Kabupaten Wakatobi;
Upacara Adat Tururangiana Andala, dari Pulau Makassar di Kota Baubau;
Layang-layang Tradisional Khagati, dari Kabupaten Muna;
Aduan Kuda, dari Kabupaten Muna;
Pacuan Kuda Kabaena, dari Kabupaten Bombana;
Upacara Adat Religi Goraana Oputa, hanya oleh Sultan Buton;
Upacara Adat Religi Qunua, oleh masyarakat Buton Raya;
Gambus dan Dhole-Dhole, alat musik khas masyarakat Buton Raya;
Upacara adat Bhangka Mbule Mbule di Kabupaten Wakatobi;
Upacara Pongkotu’A (panen padi) di Kabupaten Bombana;
Wisata Atraksi
Tari Balumpa dari Kabupaten Wakatobi;
Atraksi Perahu Naga, di Kota Baubau;
Atraksi Momani (Tarian Perang Moronene), di Kabaena Kabupaten Bombana;
Tari Lulo Alu, dari Kabaena Kabupaten Bombana;
Tari Galangi, Buton Raya;
Tari Mangaru, Buton Raya;
Tari Lumense, dari Kabaena di Kabupaten Bombana;
Tari Dudenge, dari Kabaena di Kabupaten Bombana;
Posepaa, dari Wanci di Kabupaten Wakatobi.
Wisata Alam
Taman Nasional Wakatobi, di Kabupaten Wakatobi yang merupakan surga bawah laut segitiga karang dunia yang memiliki spesies terumbu karang sebanyak 750 dari 850 spesies karang dunia;
Wisata Bawah Laut Basilika, di Kabupaten Buton Selatan
Pantai Nirwana, di Kota Baubau;
Pantai Lakeba, di Kota Baubau;
Kaburaburana, air terjun bertingkat di Kabupaten Buton.
Gua Moko, di Kota Baubau;
Gua lakasa, di Kota Baubau;
Pantai Kamali, di Kota Baubau;
Wantiro, di Kota Baubau;
Hutan Tirta Rimba, di Kota Baubau;
Batu Poaro, di Kota Baubau;
Gua Kaisabu, di Kota Baubau;
Danau Napabale, di Kabupaten Muna
Gua Liang Kobori di Kabupaten Muna
Gua Metanduno di Kabupaten Muna
Pantai Walengkabola di Kabupaten Muna
Danau Napabalano di Kabupaten Muna
Pantai Toronipa di Kota Kendari
Lagawuna, di Kota Baubau;
Air Terjun Samparona, di Kota Baubau;
Pulau Sagori, di Kabupaten Bombana
Goa Batu Buri di Kabaena Kabupaten Bombana;
Hutan Lambusango, di Kabupaten Buton yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi.
Sungai Tamborasi yang merupakan sungai terpendek di dunia yang terletak di Kabupaten Kolaka;
Suaka Margasatwa Buton Utara, di Kabupaten Buton Utara;
Cagar Alam Wakonti, di Kota Baubau;
Permandian Bungi, di Kota Baubau;
Kali Baubau, di Kota Baubau;
Kolagana, di Kota Baubau;
Sulaa, di Kota Baubau;

Komentar kamu?